"Al Faqir Ila Maghfiroti Robbihi"
Photobucket

Alwa Nury's posts with tag: cerpenkoe

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag cerpenkoe
Blog EntryMENGEJAR MATAHARIMar 29, '08 3:05 AM
for everyone
MENGEJAR MATAHARI
 
By : Alwa Nury
 
Disini ada satu kisah
Cerita tentang anak manusia
Menempuh hidup ke sana
Mencoba mencari makna cinta…
 
Sekelumit harap seorang gadis kecil bermata bening, tak ubahnya selangit cita-cita anak bangsa. Elis, bocah berusia 7 tahun itu identik dengan bakul lusuh berisi gorengan. Dalam naungan usia yang masih pupus, Elis harus membantu ibunya banting tulang untuk membiayai sekolahnya yang masih kelas 2 SD. Maklum, ibunya adalah janda beranak lima, sedang Elis terlahir sebagai sulung dalam keluarganya.
Tak banyak harta yang ditinggalkan mendiang ayahnya. Hanya dua ekor cempe dan sepetak rumah yang mereka tempati. Mata bening Elis tampak buram oleh kenyataan hidup yang berat. Sungguh! Bukan keinginan setiap anak untuk dilahirkan dalam keluarga yang jauh dari kata cukup. Namun Elis sadar dan tetap tabah menjalani deru debu kehidupan.
Dibawah terik, ia tetap bersemangat menjajakan gorengan kepada para turis domestik maupun manca yang berjubel di area makam Bung Karno. Baginya, mengais rizki di emperan makam memiliki cerita tersendiri yang sulit ia jelaskan dengan kata. Entah karena kekagumannya pada pahlawan Proklamasi itu atau karena gorengannya selalu laris manis di sana. Yang jelas, Elis suka duduk berlama-lama di emperan sambil memandangi makam sang Presiden pertama dalam bingkai kaca anti peluru.
Seperti biasa, Elis menjajakan gorengan di sana. Tak perlu waktu satu jam, gorengannya ludes. Elis berteduh di aula karena hujan tiba-tiba menyerbu. Bajunya yang sudah pudar warnanya basah. Ia mengigil kedinginan. Ia duduk beralaskan sobekan koran karena lantai aula tersebut juga dingin. Punggung kakinya ia gesek-gesek dengan telapak tangan untuk mengurangi rasa dingin. Matanya yang bulat tertuju pada sebuah kata yang dicetak tebal pada sobekan kertas tersebut. Ia menunduk bermaksud membacanya jarak dekat. C-I-N-T-A N-E-G-A-R-A. Susah payah ia mengeja tulisan itu. Seketika otaknya yang pas-pasan berputar-putar. “Apa maksudnya, ya?” tanyanya pada diri sendiri. Hampir setengah jam ia berkutat dengan tulisan itu, namun tak sedikitpun ia tahu maksudnya.
“Adik, kamu kenapa? Sakit perut, ya?” tanya seorang wanita yang melihat posisi Elis menelungkup sambil sedekap.
“Saya sedang berfikir, Mbak,” jawab Elis.
“Berfikir apa? Kok menelungkup begitu?” tanya wanita itu heran.
“Anu… bukankah oarng itu kalau berfikir pasti sedekap to, Mbak? Aku lihat di tipi begitu kok. Jadi aku ikut-ikutan sedekap supaya bisa berfikir. Aku sedang serius mbak,” jawab Elis polos.
Seketika meledaklah tawa wanita itu. “Mana ada orang berfikir sambil sedekap dan menelungkup begitu? tanyanya dalam hati. Tapi ia segera memaklumi kepolosan Elis yang ditunjang ilmu ala kadarnya.
Kok malah ngguyu to, Mbak. Orang berfikir khan tidak tertawa.”
“Ups…..,” Ehem…. Adik berfikir apa? Boleh tidak kakak bantu berfikirnya?”
“Boleh. Tapi jangan ngguyu. Sedekap begini.”
“Ok.” Wanita itu menirukan gaya Elis, dalam hati ia geli juga.
Elis menunjuk tulisan di Koran itu, “Apa maksudnya, Mbak?
“Cinta Negara........ Cinta Negara itu berarti kita harus cinta pada Negara. Harus bias mencintai tanah air.”
“Piye carane, Mbak?" tanya Elis polos.
“Kalau adik ingin cinta pada Negara, berarti adik harus bias mengejar matahari, meniti hari esok. Menjadi orang yang berguna bagi agama, orang tua dan Negara. Teladanilah sifat Bung Karno, Presiden kita yang pertama. Beliu mengharumkan bangsa. Tuh… beliau sudah wafat dan dimakamkan di sini.” jawab wanita itu sambil menunjuk kuburan proklamasi bangsa.
***
Semalaman Elis memikirkan kata-kata wanita kemarin sore.
“Mengejar matahari,” kata itu selalu terngiang dalam benaknya, sehingga ia belabelain tidak tidur semalam.
“Aha…!" Teriaknya girang setelah ia menemukan jawabannya. Ia membungkar seisi buffet tua di ruang tamu, diraihnya poster Bung Karno yang sudah dimakan rayap sebagian. Dipastikan usia poster itu lebih tua dari dirinya.
Matahari! Akan aku kejar engkau !” teriak hatinya menggebu, penuh semangat berapi-api.
Pagi yang cerah, dari ufuk timur, menyembul raja siang. Hangat, merasuk ketubuh kurus Elis.
“Aha… matahari sudah datang! Akan aku kejar engkau!” Elis berlari ke arah timur. Ia tenteng poster Bung Karno dalam tas senar lusuhnya. Ia berlari terus berlari ke arah timur. Sang mentari mulai beranjak di atas kepala, namun ia terus berlari. Entah sejauh mana Elis berlari tiba-tiba ia merasakan keanehan. Keanehan yang luput dari pantauannya.
Kenapa matahari justru berpindah? Begitu susahkah mengejar matahari? Meniti hari esok?” keluh si bocah.
Elis tidak tahu berada di desa mana sekarang. Matahari berlahan tertutup awan kelabu pertanda hujan akan tumpah dari langitNya. “Wah gawat! Matahari menghilang!
“Hai… matahari! Jangan pergi! Aku mengejarmu! Tunggu aku. Tunggu..!” ia berteriak-teriak di tengah jalan. Namun tak ada yang peduli. Orang-orang menganggapnya tidak waras. Ada juga yang mentertawakan, yaitu segerombolan anak seusianya yang tengah bermain hujan.
Elis tidak menghiraukannya. Ia terus berlari meski langkahnya mulai terseok. Hujan bertambah deras. Elis kian panik. Ia menangis menyesali ketidak mampuannya mengejar matahari.
Berbekal percaya diri selangit. Elis menghampiri pak tua yang duduk di teras rumah megahnya. Pak tua itu kaget melihat Elis yang lusuh kuyup oleh air hujan.
“Pak, saya mencintai Negara. Makanya saya mengejar matahari, itu yang dikatakan seorang kakak pada saya, Pak. Tapi sekarang mataharinya sudah hilang. Bagaimana caranya bisa mengejarnya lagi?”
Mata Pak tua itu menatap aneh. “Matahari sudah pergi? Biarkan saja. Kalau kamu mau mengejar, ya ikutan saja pergi!” bentak pak tua. Membuat Elis mengkeret.
Pergi?! Tapi kemana? Sedang ia tak tahu tempat matahari bias ditemukan.
“Pergi ke mana, Pak? Dimana saya bisa bertemu matahari?” Tanya Elis sambil mengguncang-guncang tangan pak tua. Berharap Pak tua itu mau memberi tahunya.
Kuampret kowe!” Pak tua mengibaskan tangan Elis. Elis terpental. “Anak edan! Mau bertemu matahari! Bulan! Bintang! Juga nenek moyangmu! Mati saja sana! Kalu sudah mati, maka kau akan bertemu dengan mereka!” bentak pak tua kesal.
Bruakk..! suara pintu dibanting keras-keras. Rupanya kesabaran pak tua itu sudah habis.
“Mati? Benarkah kalau aku mati, aku bisa bertemu matahari? Bias bertemu Bung Karno? Juga… juga ayah yang sudah mati? Bagaimana supaya bisa mati?”
Elis tampak berfikir sejenak. “Wah… kalau aku mati, aku juga bias bertemu para Nabi, kakek, nenek. Hebat!” batinnya.
“Aku ingin mati! Ingin bias bertemu matahari! Aku cinta Negara ! Bung Karno! Aku mau mati!” Elis jingkrak-jingkrak senang karena merasa menemukan cara mewujudkan cintanya. Ia-pun berlari-lari.
“Aku mau mati! Mati! Ma…ti…” suaranya melemah bersamaan terbenturnya tubuh mungil itu oleh benda keras.
Sebuah truk yang tidak bertanggung jawab telah menabrak Elis. Memelantingkan tubuh mungil tak berdosa itu.
Si sopir tidak maau tahu dengan keadaan Elis selanjutnya. Ia terus mempercepat laju truknya. Tak ada orang yang melihat kejadian itu. Jalanan sepi, ditengah mbulak dalam keadaan hujan senja hari.
Nafasnya tinggal satu-satu. “Aku cinta Negara. Aku akan bertemu matahari. Mak… aku berhasil,” desahnya lirih sebelum akhirnya mata bulat itu terpejam untuk selama-lamanya.
*           *             * 
Esoknya, masyarakat setempat dihebohkan dengan berita kecelakaan Elis. Pihak kepolisian segera membawa jenasah Elis kepada ibunya untuk dimakamkan, setelah diketahui data Elis dengan jelas.
Ibunya mendekap jenasah Elis dengan air mata berderai. Hatinya pilu. Permata hatinya yang imut telah pergi meninggalkan dunia untuk selamanya.
            “Oalah nduk…nduk… kenapa to kamu pergi secepat ini? Nduk…nduk…. Hiks…hiks…,” keempat adiknya yang masih kecil ikutan menangis. Mereka juga sangat kehilangan. Sangat!
            “Pak, kembalikan anakku. Pak, kembalikan gendukku pak ..hiks…hiks…,” mau tak mau polisi muda itu juga ikut menitikkan air mata, haru.
Headline Jawa Post hari ini:
“SEORANG GADIS KECIL DITEMUKAN MENINGGAL DI WLINGI DALAM MISI “MENGEJAR MATAHARI”
Halaman berikutnya:
“Seorang sopir truk pengangkut kayu menabrak tiang listrik di tikungan. Ia tewas seketika."
Mata seorang wanita terbelalak membaca berita hari ini. “Astaghfirullahaladzim… ternyata Elis mempercayai kata-kataku mengejar matahari. Itu kan hanya kiasan.” Ah… ada gurat sesal di wajah wanita itu.
“Elis, maafkan mbak ya? Bicara terlalu tinggi padamu. Seharusnya mbak bicara sederhana saja padamu. Bukan maksud mbak mencelakaimu. Tapi mbak kagum dengan semangatmu yang tinggi mewujudkan rasa cinta pada Negara. Andai semua generasi Indonesia sepertimu.....”
Butiran Kristal membasahi pusaran Elis, berbaur dengan hujan yang jatuh menyirami bumi.
Tetes air mata mengalir
Di sela derai tawa
Selamanya kita
Tak akan berhenti mengejar
Terus mengejar matahari
 
 
Keterangan:
1.      Mengejar matahari     =  Ari lasso
2.      Ngguyu                      =  Tertawa
3.      Piye carane mbak?       =  Bagaiamana caranya mbak?
4.      Kowe ( bahasa jawa kasar/ ngoko)  = Kamu
5.      Blulak ( bahasa jawa ) jalan di tengah sawah
6.      Genduk                      = sapaan anak perempuan (Jawa)

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help